Sabtu, 10 Juli 2021

KRITIK DAN ESAI KUMPULAN CERPEN M. SHOIM ANWAR

 

KRITIK DAN ESAI

KUMPULAN CERPEN

Karya: M. Shoim Anwar

Dalam dunia sastra pada tanah air ini, nama M. Shoim Anwar siapa sih yang tidak mengenal beliau?salah satu  Sastrawan yang lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang,  Jawa Timur sudah dipenuhi karya sastra. M Shoim Anwar dikenal sebagai pencipta cerpen,puisi, namun tulisan-tulisan yang dimunculkan juga dalam bentuk esai sastra.

Jika kita membaca,memahami karya cerpen M. Shoim Anwar, beliau selalu menggunakan kata kalimat yang beragam, kemudian banyak mengandung kritik sosial yang berkaitan dengan masalah sosial, politik, ekonomi, hukum, pendidikan, moral, agama, kepercayaan, dan teknologi. Menjadi suatu ciri khas sebuah karya M Shoim Anwar karena kritik-kritik tersebut berhubungan atau tidak dapat dilepaskan dari latar belakang kehidupan dan proses kreatif Shoim Anwar.

           M Shoim Anwar bisa disebut sastrawan cerpenis nasional, karena banyak menyuarakan, mengibaratkan nasib masyarakat kecil yang selalu tertindas oleh penguasa atau pemerintah di zaman Orde Baru. Kepekaannya dalam mengamati nasib rakyat kecil melahirkan kritik-kritik sosial dalam karya-karyanya.

Selanjutnya M Shoim Anwar mempunyai beberapa judul cerpen yaitu "Sorot Mata Syaila", "Sepatu Jinjit Aryanti",  "Bamby dan Perempuan Berselendang Baby Blue", "Tahi Lalat", dan  "Jangan ke Istana, Anakku". Jika ditanya apakah dari lima cerpen tersebut memiliki kesamaan? Jawabannya Iya, karena dari lima cerpen sama-sama membahas tentang kehidupan social yang sering terjadi di masyarakat atau di kehidupan nyata. Sebagai pembaca, seolah-olah bisa merasakan apa yang terjadi di dalam cerpen tersebut.

Kemudian dari lima cerpen tersebut selalu menggunakan gaya bahasa yang membuat cerpen tersebut menjadi lebih menarik dan pembaca tidak merasa bosan, hebatnya dari M Shoim Anwar selalu membuat penasaran dijalan cerita cerpennya. Walaupun hanya membaca sekilas, atau membaca sekali saja kita dapat mengetahui jalan ceritanya.

Pilihan kata dan kalimat mudah di mengerti, tidak berbelit-belit sehingga sebagai pembaca dapat menghayati dan terbawa suasana dalam cerpen tersebut, setiap tempat atau setiap benda selalu dijelaskan lebih rinci dan memiliki arti . Jadi ikut merasakan dari situasi tegang, romantisnya, bercanda pun dapat dirasakan kita sebagai pembaca. Dalam setiap kalimatnya diselipkan kata-kata kiasan, kalimat cerpen terdapat kiasan-kiasan sehingga membuat cerita itu semakin menarik, semakin membuat penasaran dengan kelanjutan cerpennya, kalimatnya tidak membuat bosan dari awal cerita hingga akhir cerita.

 

Membaca cerpen saja tidak ada hasilnya jika tidak dapat mengambil nilai-nilai yang terkandung kedalam cerpen, dapat digunakan sebagai pembelajaran kehidupan yang saat ini terjadi. Kumpulan cerpen tersebut memiliki kritikan yang cukup tajam, tidak terlalu frontal namun langsung dapat dipahami jika kalimatnya sedang menyindir seseorang.

Beberapa cerpen juga mempunyai masing-masing judul yang unik, menarik sehingga pembaca membayangkan apa yang akan terjadi di judul tersebut, bagaimana jalan cerita yang ada pada cerpen tersebut.

Bagi kalian yang belum pernah membaca cerpennya silahkan dibaca kumpulan Cerpen Karya M Shoim Anwar, pada link https://klipingsastra.com/id/oleh/m-shoim-anwar

 

 




Minggu, 27 Juni 2021

KRITIK DAN ESAI REVISUALISASI VIDEO CLIP MAHASISWA UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA ANGKATAN 2014

 

KRITIK DAN ESAI REVISUALISASI VIDEO CLIP MAHASISWA UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA ANGKATAN 2014

 

          Lagu yang berjudul “Mama Papa Larang” dinyanyikan oleh Judika,Judika adalah seorang aktor, penyanyi dan Model Indonesia yang meraih kejuaraan Indonesian Idol ke-2. Dalam revisualisasi video clip mahasiswa angkatan 2014 Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, menggunakan lagu “Mama Papa Larang”. Tujuan pembuatan video tersebut salah satunya untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah “Kreativitas Sastra”.

          Jika dilihat dari segi cerita video, menceritakan seorang laki-laki yang sangat mencintai perempuannya. Setiap hari setiap saat selalu bersama dengan perempuannya yaitu kekasihnya. Segala aktivitas dilakukan berdua, namun perempuan ini sepertinya menjalankan hubungan pacaran yang diam-diam tidak terbuka dengan orang tua terutama ibunya. Bisa dilihat dari cuplikan video tersebut bahwa seorang laki-laki itu sedang mengantar perempuannya pulang, namun tidak diturunkan didepan rumah perempuan. Kemudian, jika hubungan percintaan sudah saling terbuka dengan orang tua seharusnya, setelah mengantarkan pulang kekasihnya laki-laki tersebut mematikan mesin motornya, turun dan bersalaman dengan orang tuanya mengucapkan terima kasih kepada orang tua telah mengizinkan anaknya untuk diperbolehkan keluar dengan laki-laki ini.

          Pada suatu hari saat perempuan ini berbincang-bincang dengan ibunya, ibunya mendengar suara telepon dari ponsel anaknya, hingga akhirnya ibu ini mengangkat telfon dari kekasih anaknya sampai terheran-heran. Keesokan harinya, ibu memberitahu kepada laki-laki ini untuk menjauhi anaknya.

          Namun, dalam video ini tidak diberi penjelasan mengapa orang tua dari perempuan ini tidak menyetujui hubungannya bisa dibilang tidak mendapatkan restu orang tua. Tidak merestui hubungan percintaan bisa melalui beberapa faktor yaitu dari segi fisik, harta, kepribadiannya, atau hal yang lainnya sehingga orang tua tidak memberikan restu. Dalam lirik lagu itu menyebutkan bahwa ada tokoh mama dan papa, namun di dalam video clip angkatan 2014 tidak memperlihatkan sebuah tokoh papa.

          Video clip dari mahasiswa angkatan 2014 ini, juga menceritakan sebuah perjuangan cinta yang luar biasa, meskipun sudah terlihat bahwa orang tua tidak menyetujui hubungannya laki-laki ini tetap akan membuktikan kepada orang tua dari kekasihnya, menunjukkan bahwa dia pantas untuk menjadi kekasih anaknya, membuktikkan bahwa cinta yang dia miliki melebihi apapun. Jadi, kalian yang telah mendapatkan restu orang tua jangan disia-siakan, karena orang yang tidak direstui dalam hubungan percintaan akan membutuhkan sebuah perjuangan besar maupun dari segi fisik,materi,sikap dll. Kemudian, biasakan terbuka,jujur kepada orang tua kita dalam hal apapun.

Rabu, 16 Juni 2021

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufiq Ismail

 

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Karya Taufiq Ismail

 

I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia 


Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia 


Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia


Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini 

 


II
Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor

satu,


Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

curang susah dicari tandingan, 


Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara

hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,


Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk

kantung jas safari,


Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar

orangtua mereka bersenang hati,


Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-

sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-

besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,


Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak

putus dilarang-larang,


Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat

belanja modal raksasa,


Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang

saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan

pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan

diinjak dan dilunyah lumat-lumat, 


Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak

rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya

dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek

Jakarta secara resmi,


Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima

belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,


Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,


Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror

penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil

bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor

pertandingan yang disetujui bersama,


Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala

Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala

Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,

India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah

Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,


Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat

terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur

Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula

pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta

terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan, 


Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam

kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di

tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.


1998

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KRITIK DAN ESAI

            Dunia Sastra termasuk yang luas, Karya sastra merupakan dunia imajinasi yang memberikan makna tertentu kepada pembaca, karya sastra mampu membuat pembaca seolah-olah merasakan apa yang telah terjadi di dalam puisi tersebut. Karya sastra mampu mengajak pembaca berimajinasi sesuai dengan konteks yang dibaca. Seorang pengarang ketika menyuguhkan suatu karya sastra, pasti kata-kata itu mampu memberikan makna.  Suatu karya sastra akan tidak berdaya, jika tidak memiliki unsur seni. Karya sastra juga gambaran hasil rekaan seseorang dan menghasilkan kehidupan yang mewarnai sikap, latar belakang, dan keyakinan pengarang.

 

Kumpulan puisi “Malu (Aku) jadi Orang Indonesia” karya Taufiq Ismail merupakan catatan-catatan emosional zaman dengan gejolak politik dan sikap bangsa Indonesia. Jika di kaitkan dengan kehidupan sehari-hari atau diambil dari hal menarik maka puisi ini dapat dikaitkan dengan kritik social. Dalam puisi ini suatu tanggapan yang diberikan pengarang terhadap permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Jadi, kritik sosial dalam kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (MAJOI) merupakan masalah sosial yang terekam oleh pengarang dan dituangkan dalam bentuk karya sastra. Dengan demikian, kritik sosial tersebut adalah permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

 

Faktor penyebab terjadinya kritik sosial dalam kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (MAJOI) Karya Taufiq Ismail, berkaitan erat dengan bentuk-bentuk kritik sosial tersebut. Puisi ini menceritakan tentang ketimpangan ekonomi dalam masyarakat, keberpihakan kebijakan pemerintah, dan militeristik yang dominan dalam pemerintahan. Oleh sebab itu, keberpihakan birokrasi pemerintahan pada kepentingan orang banyak akan dapat merugikan banyak pihak.

 

Kritik Sosial dalam puisi ini mengambarkan masalah kemiskinan dan lapangan pekerjaan, masalah kejahatan dan penangananya, dan masalah birokrasi politik, dan keamanan. Dari ketiga bentuk-bentuk kritik sosial tersebut, yang paling dominan adalah masalah kemiskinan dan birokrasi pemerintahan.

Minggu, 06 Juni 2021

Setan Banteng Karya Seno Gumira Ajidarma

 

Setan Banteng

Karya Seno Gumira Ajidarma

Cerpen yang berjudul “Setan Banteng” menceritakan pentingnya untuk memberikan sebuah pembelajaran kepada anak sejak dini atau  sejak kecil tentang sikap dan perilaku mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

Cerpen ini juga menyampaikan pesan pentingnya untuk memberikan sebuah arahan terutama tentang sikap dan perilaku anak agar nantinya menjadi seorang yang terarah dan memiliki etika, tidak menjadi seseorang yang buta arah, menghalalkan seluruh usaha demi mendapatkan apa yang diinginkan meskipun usahanya salah atau tidak benar seperti sosok setan banteng yang tergambar dalam cerpen, setan banteng tidak akan mendengarkan, tidak akan menghiraukan seseorang yang disekelilingnya.

Setelah dibaca dan dipahami, cerpen Setan Banteng memiliki kosa kata, penggunaan kalimat yang cukup rumit. Sehingga, pembaca harus mengulang-ulang membacanya agar dapat mengetahui makna yang sesungguhya.

Setiap karya sastra pasti memiliki kelebihan, kelebihan itu bisa dijadikan ke unikan dalam cerpen. Dari segi Pendidikan, bisa dikaitkan bahwa pendidikan saat ini tidak tentang hanya belajar, memperhatikan, mendengarkan para guru. Namun, dalam pendidikan bisa terjadi perkelahian antar pelajar. Tidak melulu dengan teman satu sekolah, bahkan berbeda sekolah pun dapat memicu adanya perkelahian.

 

Minggu, 30 Mei 2021

KRITIK DAN ESAI PUISI Sajak Palsu Karya: Agus R. Sarjono

 

Sajak Palsu

Karya: Agus R. Sarjono

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.

1998

 

 


 

KRITIK DAN ESAI

Agus R. Sarjono lahir di BandungJawa Barat27 Juli 1962 adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal sebagai penyair, novelis, dan penulis esai sastra yang dimuat di berbagai media massa. Agus telah mementas karya-karyanya di berbagai negara. Salah satu karya puisinya yang berjudul “Sajak Palsu”.

Setelah dibaca dan dipahami puisi  ‘Sajak Palsu’ pada tahun 1998 memiliki makna yang menyangkut ke kehidupan nyata atau realita. Meski puisi tersebut lahir 22 tahun yang lalu, tetapi puisi ini masih sangat pengaruh dengan realita saat ini. Puisi tersebut mengisahkan betapa buruknya pengaruh pendidikan yang menjunjung tinggi kepalsuan, kehidupan di negeri ini  yang banyak dengan kepalsuan atau kebohongan. Dari sebuah instansi pendidikan, kerja dan pemerintah di Indonesia.” Berawal dari kepalsuan menjadi palsu”.

Di masa sekolah sudah terbiasa dengan perilaku-perilaku palsu dan bohong, maka dari kebohongan itu lahirlah ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, bahkan pejabat tinggi palsu. Kemudian semua orang senang, dan bahagia akan meyampaikan gagasan kebohogan untuk menyambut datangnya demokrasi palsu.

Puisi ini juga menceritakan gambaran buruk jika dunia ini dipenuhi dengan kepalsuan, kebohongan. Dengan adanya kebohongan yang menerima dampak buruk adalah generasi muda, sang pemegang kunci masa depan bangsa.

Pencipta menggunakan diksi yang mudah untuk di pahami. Bentuk  puisi ke sebuah karangan cerita. Tidak berupa bait yang terpisah-pisah. Penyampaian dalam puisi ini bernada lugas dan tegas, dengan tujuan mengingatkan kepada Si pembuat kepalsuan sadar akibat yang ia lakukan.

Puisi “Sajak Palsu” karya Agus R. Sarjono termasuk karya yang berhasil, yang dimaksud berhasil yaitu puisi ini  mengangkat potret sosial. Dengan memiliki ciri khas, Pencipta seperti menertawakan kehidupan sosial yang semuanya serba palsu dan penuh kepura-puraan. Maka  bisa disimpulkan bahwa puisi sajak palsu sesungguhnya menyuguhkan realita Indonesia yang tragis, sehingga dapat termotivasi untuk memperjuangkan dan memperbaiki wajah generasi muda pendidikan di Indonesia.

Minggu, 23 Mei 2021

KRITIK DAN ESAI Puisi Karya Wiji Thukul

 

PERINGATAN

Karya : Wiji Thukul

 

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gasat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

 

 

                 

 

 

Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu

Karya : Wiji Thukul

 

Apa guna punya ilmu

Kalau hanya untuk mengibuli

Apa gunanya banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Di mana-mana moncong senjata

Berdiri gagah

Kongkalikong

Dengan kaum cukong

Di desa-desa

Rakyat dipaksa

Menjual tanah

Tapi, tapi, tapi, tapi

Dengan harga murah

Apa guna banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

 

 

 

 

 

 

 

KRITIK DAN ESAI SASTRA

Puisi 1

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo ,beliau diahirkan di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963) meninggal di tempat dan waktu yang tidak diketahui, hilang sejak diduga diculik, 27 Juli 1998 pada umur 34 tahun) adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. 

Dalam puisi yang berjudul “ Peringatan “ menceritakan tentang zaman orde baru, yang dimaksud zaman orde baru yaitu ketika rakyat harus terus menerus tunduk akan kekuasaan,aturan dan tidak diperolehkan untuk mengajukan kritik tentang pemerintahan. Jika terdapat rakyat mengutarakan suara dan pendapatnya berupa kritikan pasti dianggap subversive,  hingga saat ini rakyat yang melakukan kegiatan seperti itu akan dihilangkan atau diasingkan.

Puisi yang berjudul “Peringatan” merupakan puisi sindiran keras terhadap pemerintahan, melalui puisi ini Pencipta ingin memperlihatkan keadaan rakyat yang tertekan, tertindas karena pendapat dan kritikan mereka diacuhkan oleh pemerintah atau penguasa. Suatu saat rakyat pasti akan melawan, jika di rasa rakyat sudah lelah atas yang dirasakan hingga saat ini.

Jangan anggap rakyat akan diam saja, namun saat rakyat tak lagi bisa mendengar pemimpinnya, saat rakyat tak bisa mempercayai pemimpin, ketika mulut rakyat selalu dibungkam, ketika suara rakyat tak didengar, dan ketika kebenaran tidak bisa diperoleh dimanapun. Kemelut itu akan membawa Indonesia dalam keterpecahbelahan, cerai-berai, dan tak memilki tujuan bernegara lagi. Maka dalam puisi tersebut membukakan jalan bahwa siapapun itu harus tetap berjuang melawan segala sampah yang menodai bangsa.

Dalam puisi ini pembaca seolah-olah ikut merasakan yang ada di dalam puisi tersebut, karena dalam pemilihan kata dan kalimat sangat mudah untuk dipahami. Puisi ini juga menggunakan bahasa yang tegas , tidak bertele-tele dan lugas.

 

 

Puisi 2.

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo ,beliau diahirkan di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963) meninggal di tempat dan waktu yang tidak diketahui, hilang sejak diduga diculik, 27 Juli 1998 pada umur 34 tahun) adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Widji Thukul mempunyai banyak karya sastra, salah satu karyanya yang berjudul “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”. Puisi ini terdiri dari  beberapa bait puisi yang tujuannya untuk menyindir para penguasa dan aparat pemerintahan yang dzalim pada saat itu.

Jika dibaca dan dipahami puisi ini menceritakan bahwa sejatinya seseorang yang berilmu,pintar dalam segala sesuatu namun seseorang tersebut tidak mengamalkan ilmunya dalam kebaikan, itu sama saja tidak ada gunanya dan orang yang terus-menerus membaca buku namun selalu bungkam dan tidak bisa menegakkan kebenaran itu juga hanyalah sebuah omong kosong. Ada baiknya setiap ilmu yang kita miliki, yang kita punyai untuk diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk kedepannya. Sehingga ilmu yang kita miliki akan lebih bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain dibandingkan hanya menyimpannya sendiri. Bisa dilihat dari bait berikut ini :

"Apa guna banyak baca buku

“Kalau mulut kau bungkam melulu"

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa bukan mulut saja yang panjang disebut sebagai moncong, Senjata panjang yang biasa dibawa oleh pemimpin bisa disebut moncong dan berada dimana-mana selalu mengawasi, mengintai dan tidak hanya itu yang berdiri dengan gagah tidak hanya manusia saja. Senjata pun ikut berdiri menyaksikan dengan gagah , dan selalu keadaan siap menembak untuk siapapun yang dianggap bersalah, mengundang kericuhan. Dibuktikan dari bait berikut ini :

"Dimana-mana moncong senjata

Berdiri gagah"

Dalam puisi ini juga menggambarkan bahwa di desa-desa, banyak rakyat yang selalu dipaksa untuk menjual tanahnya kepada pihak tertentu, tidak boleh dijual di tempat atau orang lain. Karena memiliki rencana yang nantinya memasang harga yang relatif murah sehingga dapat menimbulkan kerugian atau berdampak cukup besar untuk rakyat secara ekonomi.

Pencipta menggunakan gaya bahasa atau bahasa kiasan yang dipakai untuk memperjelas isi puisinya. Pencipta hanya mengulang kata "tapi" pada bait keenam karena bait kelima dan keenam saling berkaitan. 

Makna terdapat pada bait kelima lalu penegasan kata berulang digunakan pada bait keenam. "Dengan harga murah" merupakan penjelasan setelah adanya penggunaan kata berulang. Berikut bait puisinya :

"Di desa-desa

Rakyat dipaksa menjual tanah"

"Tapi, tapi, tapi

Dengan harga murah"

Dari puisi "Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu" Karya Wiji Thukul, pencipta puisi berharap bahwa para pejabat tinggi atau seseorang yang memiliki jabatan, banyak uang dapat lebih bijaksana terhadap setiap orang maupun masyarakat. Puisi ini juga memberikan pesan kepada rakyat bahwa rakyat bisa memanfaatkan ilmu yang telah dia terima dengan sebaik mungkin dan dapat memanfaatkannya.

Dalam puisi ini pembaca seolah-olah ikut merasakan yang ada di dalam puisi tersebut, karena dalam pemilihan kata dan kalimat sangat mudah untuk dipahami. Puisi ini juga menggunakan bahasa yang tegas , tidak bertele-tele dan lugas.

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 15 Mei 2021

Puisi Idul Fitri Karya Sutardji Calzoum Bachri

 

Puisi Idul Fitri

Karya Sutardji Calzoum Bachri

 

Lihat

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

Dari masa lampau yang lalai dan sia

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

Telah kutegakkan shalat malam

Telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju Ka’bah

Tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku

Aku bilang:

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah kan ada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

Semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

Ngebut

Di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir

Tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu

Di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir

Tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini

Kukenakan zirah lailahaillAllah

Aku pakai sepatu sirathalmustaqim

Aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan shalat

Dan kurayakan kelahiran kembali

Di sana

 

 

 

Kritik dan Esai

Sutardji Calzoum Bachri merupakan lulusan i Universitas Padjadjaran Bandung. Sutardji Calzoum Bachri  termasuk sastrawan yang  menghasilkan karya  puisi dan cerpen. Tidak hanya itu, karyanya menjadi unik karena  diterbitkan dalam bahasa Inggris, Belanda, dan Rusia. Mari kita baca dan pahami hasil karyanya puisi yang berjudul Idul Fitri.

Puisi karya Sutardji Calzoum Bachri puisi yang kata dan kalimatnya mudah untuk dipahami sehingga pembacanya dapat ikut merasakan apa yang penulis tuliskan dalam karyanya.

Idul Fitri merupakan suatu acara sacral yang dirayakan oleh umat muslim di berbagai penjuru dunia, bahkan hingga sekarang masih identik cukup kental suasananya.  Nah puisi di atas sangat menggambarkan menyambut hari raya idul fitri. Bisa dilihat dari bait berikut ini :

Lihat

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

Dari masa lampau yang lalai dan sia

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

Telah kutegakkan shalat malam

Telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju Ka’bah

Tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku

            Bait diatas menceritakan tentang sebelum menyambut hari raya idul fitri, kita harus melewati tantangan atau menyambut bulan suci Ramadhan. Nantinya seluruh umat muslim akan berpuasa, melakukan sholat tarawih, dan melakukan amalan-amalan yang baik kedepannya. Kemudian memohon ampun kepada ALLAH SWT untuk menghapuskan semua kelakuan jahat, dan dosa-dosa yang pernah dilakukan. Bulan suci Ramadhan juga terdapat Malam Lailatul Qadar merupakan para malaikat turun ke bumi untuk memberikan keberkahan dan kedamaian untuk seluruh umat Islam sampai terbit fajar. Malam Lailatul Qadar sangat dinantikan seluruh umat muslim. Dibuktikan dari bait berikut :

Aku bilang

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah kan ada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

Semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

Penulis menceritakan bahwa manusia akan melakukan apapun untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Dengan ini semua percaya jika beribadah dengan bersungguh-sungguh Allah SWT pasti mendengar doa dan menghapus dosa para umatnya. Mari kita pahami bait berikut ini :

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

Ngebut

Di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir

Tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu

Di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir

Tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

Dalam larik di atas, menggambarkan bahwa seseorang yang berusaha untuk bertobat dan terus menerus tidak berhenti untuk bersujud serta meminta pengampunan kepada Allah SWT karena telah terlena oleh gemerlap dunia yang hanya sementara.

Dalam larik berikut,

Maka pagi ini

Kukenakan zirah lailahaillAllah

Aku pakai sepatu sirathalmustaqim

Aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan shalat

Dan kurayakan kelahiran kembali

Di sana

Bait diatas menceritakan Hari Raya Idul Fitri telah tiba. Seluruh umat muslim melakukan ibadah sholat Ied, setelah melakukan sholat ied dilakukan untuk bersungkem kepada orang-orang yang kita sayangi untuk memohon maaf dengan segala kerendahan hati, diharapkan dapat terhapus dosa-dosanya maupun perkataan yang kurang enak dihati.

 

 

KRITIK DAN ESAI KUMPULAN CERPEN M. SHOIM ANWAR

  KRITIK DAN ESAI KUMPULAN CERPEN Karya: M. Shoim Anwar Dalam dunia sastra pada tanah air ini, nama M. Shoim Anwar siapa sih yang tida...